Skip to main content

Peran vital pemuda dalam perubahan social dan politik

Kemiskinan merupakan permasalahan yang pasti bagi sebagian negara berkembang termasuk Indonesia. Kemiskinan melemahkan banyak sistem, menyebabkan banyak permasalahan lainnya yang jauh lebih kompleks. Kesadaran bahwa kekuatan terbesar negara ini adalah pemudanya, bahwa maju atau mundurnya bangsa ini adalah karena perbuatan pemudanya, membuat saya optimis bahwa Indonesia bisa berkembang jauh lebih baik daripada hari ini. Tetapi juga timbul kekhawatiran apakah pemuda Indonesia sudah tersiapkan dengan baik untuk menghadapi tantangan di masa depan?
Ketika saya pergi pulang kampung didesa atau kampung payakumbuh, dan selama saya dikampung saya melihat keadaan desa payakumbuh ini yang jaraknya tidak terlalu jauh denga dengan kampung halaman saya, Keadaan desa ini begitu miris, terutama pada bidang kesehatan, pendidikan, lingkungan dan dinamika sosial. Masyarakat desa yang dominan berpendidikan rendah menjadi salah satu akar rumput permasalahan yang harus segera di selesaikan, karena dengan pendidikan mata rantai kemiskinan dan masalah-masalah negara yang diakibatkan oleh kemiskinan dapat terputus.

Masalah yang lain adalah kurangnya kepedulian masyarakat terhadap lingkungan terutama ekologis persawahaan. Petani di Desa payakumbuh
Tidak mendapatkan penyuluhan dan pendidikan pertanian yang baik sehingga kebiasaan mereka menggarap sawah dengan penggunaan pupuk kimia serta pestisida kimia tanpa menghitung takaran yang tepat dapat menyebabkan rusaknya lingkungan dalam kurun waktu yang cukup panjang. Selain itu, berkaitan langsung dengan nyawa para petani, di dalam tubuh mereka telah terjadi akumulasi racun terus-menerus dan hasil panen raya pun tidak selalu stabil dari tahun ke tahun karena tanah sawah yang mereka garap mengalami kerusakan yang cukup parah. Hasil dari pendekatan yang dilakukan melalui kelompok tani, ketua paguyuban desa serta jajaran pengurus Desa payakumbuh ini, ternyata masalah-masalah ini sangat berkaitan dengan pergeseran kultur yang terjadi. Era globalisasi tidak hanya berdampak pada masyarakat kota tetapi juga berdampak nyata sampai masyarakat desa. Sampainya bahan kimia ke desa merupakan salah satu cara instan mendapatkan hasil panen tanpa harus menunggu waktu yang lama. Kepraktisan yang ditawarkan era globalisasi inilah yang sudah mengakar di masyarakat Desa payakumbuh dan tidak menutup kemungkinan juga pada desa-desa lain yang ada di Indonesia.

Masalah lainnya adalah dinamika sosial masyarakat desa. Pergaulan remaja desa sangat memprihatinkan. Di desa dekat kamoung saya ini, banyak remaja perempuan yang hamil diluar nikah. Penyimpangan pergaulan yang biasa kita lihat terjadi pada masyarakat perkotaan ternyata juga terjadi pada masyarakat desa. Hal ini telah menggeser nilai-nilai normatif yang dianut oleh masyarakat desa. Setelah ditelisik lebih jauh mengapa hal ini bisa terjadi, yaitu dikarenakan pendidikan reproduksi dan sosialisasi mengenai kesehatan reproduksi yang tidak memadai. Selain itu, kurangnya sanitasi yang ada di desa menyebabkan banyaknya warga desa yang buang air di hutan-hutan atau langsung di perairan. Pencemaran perairan yang terjadi akibat kotoran manusia mengakibatkan penyakit endemik di desa. Terlalu banyak permasalahan di desa yang sesungguhnya mengharapkan kita, sebagai pemuda, seorang mahasiswa yang memiliki pendidikan yang lebih tinggi untuk dapat berbagi ilmu dengan mereka, mengimplementasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu pengabdian masyarakat, sehingga dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat desa.

Komoditi pangan yang dihasilkan oleh masyakat pedesaan sangat mempengaruhi kekuatan dan stabilitas pangan nasional. Oleh karena itu, ketika ada masalah di pedesaan hal tersebut juga berarti merupakan masalah nasional. Masyarakat pedesaan yang masih mendominasi Indonesia dapat dijadikan kesempatan besar dan kekuatan Indonesia dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Namun, hal yang paling utama untuk melakukan perubahan adalah dengan memulai perubahan itu sendiri pada diri kita. Saya pun bercermin bagaimana saya dapat merubah orang lain sementara diri saya belum berubah.
Peran pemuda untuk membuat pendidikan karakter lebih optimal haruslah terlebih dahulu dimulai dari diri sendiri. Memperkaya dirinya dengan ilmu, bergerak maju ke arah kualitas hidup yang lebih baik dan bermartabat, menetapkan prinsip-prinsip dasar sebagai nilai yang ideal dalam menetapkan cita-cita, memilih strategi serta mampu menggali dan membangkitkan apa yang terbaik yang ada didalam dirinya, barulah dia dapat memberikan dampak bagi yang lain. Prinsip dasar tersebut akan menumbuhkan dimensi moral dan spiritual pada pelaksaan tugas dan kewajiban dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Para pemuda harus memiliki rasa tanggung jawab sosial untuk membangun bangsa melalui bidang keilmuan yang dimiliki.

Melihat kondisi bonus demografi Indonesia, timbul permasalahan dimana kebanyakan pemuda di Indonesia tidak tersiapkan, terlihat masih rendahnya kualitas hidup pemuda, rendahnya tingkat pendidikan yang dimiliki dan kurangnya keterampilan pemuda dalam menghadapi MEA yang tidak lama lagi akan terealisasikan. Sekarang, pemuda masih dianggap remeh dalam menentukan suatu kebijakan oleh kalangan tertentu, masih dianggap belum matang karena banyaknya masalah kepemudaan yang timbul sehingga menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap pemuda. Oleh karena itu, kita sebagai pemuda memiliki pekerjaan rumah yang cukup besar untuk memiliki keinginan kuat membangun bangsa melalui aksi-aksi nyata, menuangkan gagasan dan ide-ide kreatif sebagai solusi pemecahan masalah bangsa yang ada secara arif dan strategis agar menjadi kaum terdidik yang memiliki jiwa pejuang, berorientasi ke masa depan dan mau bergerak bersama-sama untuk membangun bangsa dengan karya nyata.
Kalau bukan kita siapa lagi? Kalau bukan sekarang kapan lagi?

Sumber gambar : zoonar.com

Antara Jokowi dan Desa

Siapa yang tak kenal dengan sosok pemimpin era reformasi yang satu ini, beliau yang sederhana, merakyat, apa adanya hingga menjadi dambaan dan  harapan hampir seluruh rakyat Indonesia untuk menjadi pemimpin bangsa yang memang benar-benar menjadi seorang pemimpin, bukan pemimpin asal pemimpin. Beliau yang apik dengan panggilan Jokowi ini adalah orang nomor 1 di Indonesia yakni sebagai Presiden Indonesia masa jabatan 2014 – 2019.
Dengan sosok yang dimiliki Jokowi tersebut memang sudah memenuhi kriteria sebagai seorang pemimpin bangsa Indonesia ini. “Dia haruslah seorang yang jujur, tulus, berakhlak mulia, percaya diri. Mampu memberi motivasi, dekat dengan  rakyat atau orang-orang yang dipimpinnya, menghayati dan menyelami hati nurani rakyat, mampu berunding dengan berbagai pihak, secara bilateral maupun multilateral, untuk kepentingan bangsa dan negaranya”(Sjamun, Tryana. Berjuang Dari Tengah (Membangun Demokrasi Yang Beradab). 2013 :180).
Kriteria tersebut ditampakkan melalui program-program luar biasa beliau, dan yang paling beda dari program presiden-presdien sebelumnya, paling luar biasa, dan program paling berani yakni dengan program untuk desa yakni dengan sebutan Dana Desa wujudkan Kedaulatan Desa. Mengapa bisa demikian karena sudah hampir 73 tahun Indonesia merdeka, hanya Jokowi yang mempriortitaskan desa sebagai fokus utama  pembangunan, dengan pemberian dana desa langsung dari APBN menjadi suatu penampakan yang nyata dari kriteria pemimpin yang beliau miliki.
Setiap tahunnya program Dana Desa selalu dinaikkan pengalokasiannya, dan di tahun 2017 ini masyarakat desa dapat mengelola Dana Desa tersebut dengan jumlah 1 Milyar setiap desa per tahunnya. Dapat kita nilai bahwasaannya Jokowi memang memberikan perhatian yang serius untuk rakyat, terutama lapisan menengah dan bawah, hal ini juga diungkapkan oleh Marwan Jafar selaku Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi. “Ini dari Dana Desa yang baru pertama kali dalam sejarah republik Indonesia. Belum lagi ada Alokasi Dana Desa (ADD) yang besarannya 10 % dari APBD Kabupaten/kota. Sudah jelas dan sangat nyata betapa pemerintahan Jokowi –JK memberikan perhatian penuh kepada desa”. (setkab.go.id).
Banyak pro dan Kontra dengan program Dana Desa yang gelontorkan oleh Jokowi ini, kecemasan yang menghasilkan sebuah kekhawatiran akan terlaksananya program ini hampir terasa hingga semua lapisan masyarakat Indonesia, banyak yang mempertanyaakan bagaimana bisa seorang masyarakat desa dengan mayoritas pendidikan yang kurang tinggi (rendah) mampu mengelola dana tersebut dengan bijak dan untuk kemaslahatan masyarakat desa, dan berdasarkan data yang dirilis oleh kementrian dalam negeri tercatat ada 74.053 desa dan 8.300 kelurahan(www.kemejingnet .com) dan jika dikalkulasikan ada 82.353 desa/kelurahan yang berhak menerima program Dana Desa tersebut, lalu dari mana Indonesia memiliki uang yang sedemikian banyak itu.
Napoleon Bonaparte berkata “Tidak mungkin” adalah kata yang hanya dikenal dalam kamus orang tolol. (Lan, Lien Siok. Mengutamakan Rakyat. 2008 :57) hal inilah yang ingin dijawab oleh Jokowi terbukti dengan penetapan UU No. 6 tahun 2014 tentang desa, yang menandai era baru dan menguhkan kedudukan dari eksistensi desa dalam sistem republik Indonesia.  Segala tindakan besar pasti memiliki resiko yang besar pula, dan apabila berhasil maka akan mendapatkan keuntungan yang besar pula.
Tak hanya sebatas omongan dan corat-coret program belaka, jokowi juga melakukan pengawasan dan pengontrolan serta peningkatan sumber daya manusia untuk meralisasikan program ini. Dalam melakukan pengawasan agar tepat sasaran Jokowi akan membawa KPK untuk mengecek keuangan Dana Desa tersebut, seperti apa yang dikatakannya pada acara pembukaan Rakornas Pengawasan Intern Pemerintah tahun 2017di Istana Negara pada hari kamis, 18 Mei 2017, yag mewawancarai kepala desa perihal  penggunaan Dana Desa tersebut.
Disini terlihat sekali Kapabilitas rensponsif yang dilakoni seorang Jokowi yang mana beliau peka dan tanggap akan apa kebutuhan yang rakyat inginkan. Melalui program Dana Desa ini membuka banyak peluang masyarakat yang ada di desa untuk mengembangkan diri terutama dalam bidang ekonomi, sehingga tidak perlu pergi ke kota dengan alasan untuk mengembangkan diri demi kemakmuran dan kesejahteraan diri, keluarga, dan masyarakat.
Jika kita kaji dengan menggunakan teori sistem Gabriel Almond, ketika Jokowi mengagregasikan kepentingan dan kemudian membuat sebuah kebijakan tentang Program Dana Desa yang tertuang dalam UU No. 6 tahun 2014 tentang desa, dan  kemudian kebijakan tersebut diterapkan dan bukan hanya disitu kebijakan tersebut dilakukan sebuah penghakiman didalamnya dalam artian pengawasan dalam merealisasikan kebijakan tersebut, dan dengan langkah tersebut mengeluarkan suatu output berupa peluang untuk desa mengembangkan masyarakat dan semua potensi yang ada di desa tersebut dengan bantuan Dana Desa yang diberikan.
Pada Pemerintahan masa Jokowi sedikitnya telah menunjukkan kesuksessan yang dilaksanakan oleh infra dan supra struktur yang ada, dalam melakukan fungsi  sosialisasi, rekruitment dan komunikasi politik, melalui realisasi Dana Desa wujudkan Kedaulatan Desa ini.
Daftar Pustaka
Sjamun, Tryana. 2013. Berjuang Dari Tengah(Membangun Demokrasi yang Beradab). Jakarta : LP3ES.
Lan, Liem Siok. 2008, Mengutamakan Rakyat(Wawancara Mayor Jenderal TNI Saurip Kadi. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia.
https://m.detik.com/news/berita/3505056/jokowi-ke-para-kades-saya-akan-bawa-kpk-cek-keuangan-desa  diunduh pada 7 Juni 2017
http://setkab.go.id/dana-desa-pemerintahan-jokowi-wujudkan-kedaulatan-desa/ diunduh pada 7 Juni 2017
https://www.change.org/p/presiden-jokowi-dan-marwan-jafar-menteri-desa-selamatkan-dana-desa-kawal-dengan-sdm-dan-kelembagaan-pnpm diunduh pada 7 Juni 2017
http://www.kemejingnet.com/2016/07/fantastis-inilah-jumlah-desa-dan.html?m=1
diunduh pada 7 Juni 2017
Sumber gambar : https://news.detik.com/berita/2916657/presiden-jokowi-ubah-pp-dana-desa