Skip to main content

Hegemoni Dalam Fashion

Sebagai generasi yang lahir dan berkembang dalam era Reformasi, pemuda-pemudi pada saat ini sebagian besar memegang kuat prinsip-prinsip demokrasi dalam keseharia
nnya. Dari hal yang paling sederhana sampai yang menyangkut hubungan antar negara-negara di dunia, diwarnai dengan nilai-nilai demokrasi. Jika berada dalam lingkup keluarga yang juga sangat menghargai nilai-nilai kebebasan, orang tua dari keluarga yang bersangkutan cenderung memberikan kebebasan kepada anak-anaknya dalam menentukan pilihan hidupnya masing-masing. Jika dalam lingkup masyarakat yang lebih luas, keputusan-keputusan yang menyangkut urusan bersama ditentukan secara musyawarah, dan jika dalam lingkup negara, maka kepala daerah ditentukan berdasarkan hasil Pemilu.
Pertanyaannya, ketika masyarakat diberikan kebebasan dalam menentukan jalan hidup mereka masing-masing, apakah keputusan tersebut murni pilihan mereka sendiri? Adanya pilihan antara X dan Y  sebernanrnya relatif, karena bisa saja terdapat pilihan lain misalnya S, T, U dan Z. Yang menjadi masalah adalah jika ada hegemoni dalam melihat bentuk dari sebuah pilihan. Hal demikian akan membuat orang-orang berpikiran sempit dan menganggap sebuah hal harus menggunakan “ini” bukan dengan cara yang lain.
Sadar atau tidak, manusia akan selalu terhegemoni, dimulai dari hal-hal paling kecil disekitarnya hingga yang paling besar. Salah satu contoh yang sederhana adalah cara kita berpakaian. Pakaian dan fashion memiliki kaitan yang sangat erat. Fashion menjadi bagian yang tidak dapat dilepaskan dari penampilan dan gaya keseharian. Benda-benda seperti baju dan sepatu yang dikenakan bukan lagi menjadi penutup tubuh saja, namun juga menjadi alat untuk menyampaikan identitas pribadi.
Orang membuat kesimpulan tentang diri kita sebagian juga melalui apa yang kita pakai. Permasalahan apakah penilaian tersebut benar atau tidak, hal tersebut pasti akan mempengaruhi pikiran orang lain terhadap kita dan akan sangat mempengaruhi cara bersikap mereka terhadap kita. Kelas sosial, sikap, afiliasi politik, sense of style, hingga kreatifitas akan dinilai berdasarkan cara anda berbusana.
Ketika masyarakat menilai seseorang dari tampilan atau apa yang ia gunakan, cara berpakaian saat ini menjadi sebuah ideologi tersendiri bagi masyarakat, yang kemudian menjadi hegemoni bagi masyarakat. Tanpa disadari, masyarakat telah melakukan dan menerima kekuasaan yang diberi atas kelas ekonomi.
Hegemoni itu sendiri merupakan sebuah teori politik pada abad XX. Teori ini pertama kali dikemukakan oleh Antonio Gramsci (1891-1937). Hegemoni bisa didefinisikan sebagai dominasi oleh satu kelompok terhadap kelompok lainnya, dengan atau tanpa ancaman kekerasan, sehingga ide-ide yang didiktekan oleh kelompok dominan terhadap kelompok yang didominasi diterima sebagai sesuatu yang wajar